Hasil Wawancara Dengan Kak Soffa Lutfiah (Tugas OKK IM FKM UI 2015)

24 Aug 2015

Pepatah mengatakan bahwa, “pengalaman adalah guru yang terbaik.” Sebelumnya, saya tidak terlalu
mempercayai pepatah tersebut karena menurut saya pengalaman tidak selamanya menjadi guru yang
terbaik. Namun, setelah mendengar penjelasan kak Soffa mengenai OKK, saya mulai mengerti arti dari
pepatah tersebut. Kak Soffa Lutfiah adalah seorang senior FKM yang saat ini sedang magang di
Departemen Kesehatan merupakan seorang mahasiswi S1 Reguler MPKS 2012.

Kelompok SGD kami berjanji untuk bertemu dengan kak Soffa jam 14.00 pada hari Minggu, 23 Agustus
2015 di Masjid Universitas Indonesia. Walau hanya berbekal 10 pertanyaan dan rasa keingintahuan,
kami mewawancarai kak Soffa sekitar jam 14.30 dan selesai saat adzan solat Ashar berkumandang.
Walau rasanya kami ingin bertanya lebih banyak lagi, kami harus berpisah dengan kak Soffa karena kami
harus mengerjakan tugas-tugas lain yang harus kami selesaikan.
Menurut kak Soffa, urgensi OKK merupakan sebuah hal yang simple: untuk mempermudah transformasi
kami (para siswa) menjadi mahasiswa. Walau terdengar mudah, ternyata tidak gampang untuk
menambahkan pemahaman tersebut dalam pikiran mahasiswa baru. Oleh karena itu dibentuklah
serangkaian acara yang wajib kami ikuti untuk kebaikan kami. Dugaan kami tentang OKK sama dengan
ospek itu salah. Ospek itu murni hanya untuk pengenalan lingkungan sekolah dan mungkin sedikit unsur
perploncoan sedangkan OKK tidak mengandung sedikit pun unsur perploncoan dan merupakan sebuah
orientasi tentang kehidupan kampus, bukan hanya lingkungannya saja

Kak Soffa juga bercerita sedikit tentang masa OKKnya dahulu. Pandangan pertama kak Soffa tentang
OKK sewaktu menjadi mahasiswa baru dahulu tentu saja sama seperti pandangan kami saat ini: OKK
merupakan ajang ospek UI. Tetapi, setelah mengkaji dan mengambil hikmah dari setiap tugas yang
diberikan, kak Soffa akhirnya paham bahwa OKK ini tujuannya hanya ingin membantu kita untuk
beradaptasi dengan dinamika kampus yang berat ini.

Sewaktu menjadi mahasiswa baru, kak Soffa sering merasa bahwa beliau adalah seorang zombie. Beliau
sering pergi ke kampus dengan mata beler dan sering mengalami gempa bumi lokal akibat kekurangan
tidur. Kak Soffa juga sering mengeluh mengapa beliau dan teman seangkatannya harus datang pagi-pagi
jam 6 dan pulang saat matahari terbenam. Tetapi, saat kak Soffa mendapatkan gilirannya untuk menjadi panitia OKK selama dua kali, panitia ternyata sudah standby di kampus sekitar jam 4 pagi. Hal ini membuat kak Soffa
semakin hormat terhadap senior-seniornya yang dahulu memberikannya ilmu saat OKK.

Kak Soffa juga bercerita tentang cara adaptasi beliau terhadap kehidupan kampus. Pertama, beliau
memangkas waktu tidurnya. Dengan memangkas waktu tidurnya, beliau mempunyai lebih banyak waktu
untuk melakukan hal-hal produktif yang tidak sempat beliau lakukan saat kuliah. Lalu, beliau juga
membuat agenda harian yang beliau tulis dan isi setiap harinya. Saat melihat agenda kak Soffa, saya
bergidik ngeri melihat betapa padatnya jadwal kak Soffa dan masih bisa meluangkan waktu untuk
bertemu kami.

Mengenai kekompakan angkatan, kak Soffa merasa angkatannya menjadi lebih erat saat masa
bimbingan. Menurut beliau, OKK hanyalah sebuah bagian kecil dari penyesuaian kehidupan kampus.
Bagian besarnya akan lebih mempererat angkatan kami melalui berbagai macam dinamika yang akan
diberikan oleh senior kami. Kami harus percaya bahwa setiap hal yang senior kami tugaskan mempunyai
esensi penugasannya sendiri dan baik untuk diri kita masing-masing. Setelah percaya, kami harus turut
kompak dalam setiap rangkaian acara. Kompak itu harus dijalankan oleh semua mahasiswa baru. Jika
yang berpartisipasi hanya beberapa mahasiswa saja, sebuah angkatan tidak akan pernah kompak.

Melalui pengalaman-pengalaman kak Soffa, saya belajar banyak tentang OKK dan juga tujuan para
kakak-kakak senior dengan memberikan berbagai macam tugas yang cukup berat ini. Kami hanya dilatih
untuk menjadi terbiasa dengan tugas-tugas berat dengan deadline sempit. Walau tugas tersebut
terkesan mudah, tetapi dengan waktu yang sempit semua tugas tersebut akan terlihat berat. Kita tidak
boleh mengeluh! Yakinkan diri kita bahwa tugas ini pasti mempunyai sebuah makna tersirat yang belum
kita temukan. Gali esensi penugasan tersebut lebih dalam agar kami bisa menjadi mahasiswa sukses
OKK sewaktu OKK selesai. Percayalah bahwa OKK ini baik dan OKK merupakan hal pertama yang akan kami
rindukan tentang kampus sewaktu kami melanjutkan hidup kami masing-masing. Oleh karena itu, saya akan
memaksimalkan usaha dan tekad saya terhadap OKK IM FKM UI 2015 ini dan berharap bahwa saya
dapat menarik sebuah kesimpulan yang indah lagi bermakna setelah OKK selesai.


TAGS publichealth ui2015


-

Author

Follow Me