Kesehatan Masyarakat di Mata Indonesia

11 Aug 2015

Dengan munculnya berbagai macam jurusan di perguruan tinggi di Indonesia, jurusan kesehatan masyarakat semakin banyak diminati oleh anak Indonesia. Kesehatan masyarakat sendiri adalah sebuah hal penting yang harus diberikan perhatian lebih oleh Negara kita. Di Indonesia, dilaporkan bahwa selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir kasus kecelakaan kerja meningkat, imunisasi belum tersebar luas ke daerah dan pulau terpencil, dan air bersih masih sulit untuk ditemukan di Papua.

Kesehatan masyarakat sebenarnya sebuah hal sepele, tetapi masyarakat lebih sering menyepelekan hal ini sehingga kesehatan masyarakat membutuhkan perhatian khusus pemerintah. Namun, kita tidak bisa menyalahkan pemerintah saja. Seluruh penduduk seharusnya turut aktif dalam menyehatkan masyarakat. Masyarakat sehat merupakan program utama dari seluruh prosedur kesehatan masyarakat.

Menurut definisi Professor Winslow dari Yale University, kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni dalam mencegah penyakit (prevent), memperpanjang hidup (prolong), dan meningkatkan kesehatan (promote) melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Kesehatan masyarakat merupakan sebuah ilmu yang bersifat multidisiplin dan disiplin ilmunya lebih dikenal sebagai 8 pilar kesehatan masyarakat. Pada dasarnya masalah kesehatan masyarakat bersifat multikausal, sehingga pemecahannya bersifat multidisiplin. Itulah sebabnya kesehatan masyarakat disebut sebagai ilmu dan seni, bukan hanya ilmu saja.

Seorang ahli kesehatan masyarakat sebenarnya memegang kendali dominan dibandingkan dengan dokter sebagai tenaga medis. Sayangnya, pemerintah Indonesia masih menatap kesehatan masyarakat sebelah mata. Pemerintah memfokuskan seluruh upaya kesehatannya kepada upaya pengobatan (kuratif) bukan upaya pencegahan (preventif). Hal ini sungguh disayangkan karena seharusnya kedua hal tersebut difokuskan secara bersamaan dan beriringan.

Peran utama seorang ahli kesehatan masyarakat adalah untuk promosi kesehatan. Promosi kesehatan harus proaktif. Pernyataan “pencegahan lebih baik daripada pengobatan” masih bersifat sebagai retorika di negeri kita tercinta ini. Kenyataannya, politik anggaran Indonesia bias akan upaya kuratif daripada upaya preventif. Jaminan Kesehatan nasional bukanlah ‘panasea’ untuk menuju Indonesia sehat, tetapi keaktifan masyarakat Indonesia sendiri!

Memang, tidak semua lulusan studi kesehatan masyarakat bekerja di bidang kesehatan. Ini bukan berarti mereka salah mengambil jurusan, tetapi ini membuktikan bahwa lapangan kerja para ahli kesehatan masyarakat itu luas. Salah satu prospek lulusan kesehatan masyarakat dapat menjadi seorang scaffolder atau ahli perancah. Seorang ahli perancah memastikan perancah bangunan dibangun dengan aman dengan desain yang sesuai standar-standar keamanan perancah. Seorang ahli perancah bertanggung jawab atas keamanan sebuah gedung sebelum gedung itu dibangun dan dipakai oleh masyarakat luas. Namun, rata-rata lulusan studi kesehatan masyarakat memang berkecimpung dalam dunia kesehatan. Contoh profesi lulusan studi kesehatan masyarakat adalah manajer rumah sakit, konsultan gizi, tim survei dan analisa dinas kesehatan, dan higienis industri.

Begitu banyak dan berat peran seorang ahli kesehatan masyarakat membuat saya berpikir ulang tentang bidang ilmu tersebut. Hal yang selama ini saya sepelekan ternyata berdampak sangat besar untuk negeri ini dan masih membutuhkan banyak sekali perbaikan didalamnya. Dengan berbagai jenis penduduk dan gaya kehidupannya, kami, para ahli kesehatan masyarakat, harus dengan gigih menetapkan standar gaya hidup sehat demi Indonesia yang sehat. Masalah penyakit silih berganti datang ke tanah air kita ini dan usaha yang kita berikan untuk menanganinya masih terhitung minim. Ahli kesehatan masyarakat dibutuhkan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat menjadi lebih baik dan menciptakan masyarakat Indonesia sehat.


TAGS publichealth ui2015


-

Author

Follow Me